Hai Dear,
Hari ini aku kembali bertemu denganmu seperti biasa.
Kita berbicara,tertawa dan tersenyum bersama.
Tetapi ada yang menggangguku Dear.
Tatapan matamu,
Kau menatap mataku seperti biasa saat itu,saat kau
mengucapkan bahwa kau mencintaiku.
Kau seringkali melakukan itu untukku.
Tetapi
entah mengapa aku merasa lain saat ini,saat kau mulai menatap mataku,dan aku
tahu ada sesuatu yang berbeda darimu.
Tatapan matamu sayu dan lelah,
Entah apa
yang mengganggumu hari itu,kau menatapku dengan banyak arti,mengisyaratkan
bahwa kau lelah,tetapi lelah untuk apa?
Aku mengatakan padamu bahwa aku juga mencintaimu,lalu aku
menciummu.
Hari ini
aku bertemu denganmu lagi dear,
Aku mencoba menatapmu,berharap tatapan matamu yang lelah
menghilang dari mata indahmu.
Tetapi yang kulihat adalah tatapan yang sama dengan yang
kemarin,tatapanmu semakin lelah,entah karena apa,kau tak pernah sedikit pun
mengatakannya padaku.
Terkadang
aku melihatmu sedang terdiam sejenak menatap kosong lurus kearah depan
matamu,dan semakin aku memperhatikanmu,semakin jelas tatapan matamu itu.
Kau mengajakku tertawa bersama seperti biasa saat itu,dan
semakin kau tertawa,semakin aku menyadari bahwa kau lelah dear,aku tahu kau
lelah,tapi entah karena apa.
Kau
tersenyum padaku dan mengucapkan berulang kali kata bahwa kau mencintaiku
tetapi dari tatapanmu aku tahu kau lelah.
Hari berikutnya aku mencoba untuk mencarimu,kau tak ada
di tempat biasa kau berada Dear,tetapi akhirnya aku menemukanmu.
Aku ingin
berlari lalu memelukmu dari belakang untuk mengejutkanmu.Tetapi saat itu aku
melihatmu sedang terduduk sendiri di tempatmu,menatap kosong kearah lurus
didepanmu sama persis seperti waktu itu.Kau diam sekian lamanya dan aku hanya
bisa memeperhatikanmu dari kejauhan.Kau terus duduk terdiam di tempat itu,kemudian
kau merapatkan lututmu dalam dekapanmu,dan kau mulai menangis.
Aku hanya
diam di tempatku,tidak berusaha berlari kearahmu untuk memelukmu.Karena aku
tahu,saat aku melakukan itu untukmu,kau pasti akan segera menghapus air
matamu,lalu tersenyum padaku,mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan aku
tak perlu mengkhawatirkanmu.
Aku terus
memperhatikanmu dari kejauhan Dear,kau terus menangis tanpa suara di tempat
itu,membiarkan satu persatu air matamu terjatuh tanpa kau usap setetespun,aku
diam dan ikut menangis untukmu,aku tahu kau kesakitan disana,karena aku juga
merasakannya,tetapi aku bisa apa?aku hanya bisa menangis dari tempatku
berdiri,lalu memutuskan beranjak pergi dari tempatku karena aku terlalu
pengecut untuk mengetahui apa yang menyakitimu.
Malam ini
aku terdiam saat berbaring disampingmu Dear,matamu terpejam cukup
lama.Sedangkan aku terus terjaga.Aku memeperhatikan setiap gerak nafasmu,aku
memperhatikan setiap helai rambutmu,dan memperhatikan wajahmu,termasuk
matamu.Berharap mata itu telah terbuka dan tatapan lelah itu menghilang.
Aku
menggenggam tanganmu,dan menyadari sesuatu yang berbeda disana.Banyak sekali
sayatan Dear,kau menyayat tanganmu sendiri kah Dear?aku hampir menangis malam
itu melihatmu,lalu semakin merasa bersalah saat aku tahu bahwa kau menulis
namaku disana dengan sayatan lukamu.Aku terdiam,hanya mampu menatapmu yang
tertidur dengan tangisan.
Aku
beranjak pergi dari tempat tidur itu,perhatianku teralihkan oleh kertas putih
lusuh dengan bercak noda coklat kemerahan diatasnya.
Aku
membacanya lamat-lamat,dan semakin teriris saat kau menulis namaku disana
dengan darahmu dan darah itu mulai mengering,kau menuliskan bahwa kau
mencintaiku,dan menyayangiku lebih dari apapun yang membuatku semakin bersalah.
Sudahkah
kau tahu Dear?sudahkah kau menyadari bahwa aku telah menghianatimu?sudahkah kau
menyadari bahwa selama ini ada nama lain yang tertulis selain namamu?sudakah
kau tahu bahwa cintaku ini tak lagi sepnuhnya milikmu?jika ya berapa lama
Dear?berapa lama kau sembunyikan hal ini dariku?berapa lama kau berpura-pura
bahwa semuanya baik-baik saja?berapa lama kau harus tersakiti olehku?berapa
lama kau lakukan ini untukku Dear?
Aku
menatapmu Dear,dan secara tiba-tiba kau terbangun.Aku tahu kau terkejut saat
aku memegang kertas itu di tanganku,tetapi kau hanya bangkit untuk duduk
menatapku,lalu tersenyum.Aku diam menatapmu kalut.Cukup lama kita hanya
terdiam,lalu kau tertunduk menatap lantai-lantai kamar,memanggil nama ku,dan
hanya mengatakan bahwa kau mencintaiku,lalu kembali menatapku sambil
tersenyum.Aku diam,aku ingin menangis memelukmu,mengatakn bahwa aku bersalah
telah melakukan ini kepadamu.Entah setan apa yang aku dengarkan bisikannya
malam itu.Aku hanya diam menatapmu sambil tersenyum lalu mengatakan bahwa aku
juga mencintaimu,tanpa pernah berkata maaf atau apapun untukmu.
Tuhan,mengapa
kau mengirimkan malaikat kecil ini dalam hidupku?mengapa tak kau biarkan saja
dia mengisi kehidupan orang-orang yang lebih baik dariku?atau kenapa tak kau
biarkan dia tetap menjadi malaikatmu secara utuh disurga sana?mengapa aku
Tuhan?aku tak ingin melukainya,dan aku tak ingin dia pergi untuk
meninggalkanku,hanya dia yang aku punya,hanya dia yang selalu ada,hanya dia
yang bisa menjadi separuh nyawaku,aku seharusnya menjaganya,menjadikannya yang
terindah,tetapi apa nyatanya?bisikan setanmu lebih kuat berhembus
dikepalaku,membuatku harus membagi cinta untuknya dengan yang lain.Dan saat ini
egoku lebih besar dari logikaku.Aku hanya ingin dia milikku utuh,dan aku tak
ingin dia pergi meninggalkanku meskipun mungkin saat ini dia tahu bahwa aku
telah membagi hatiku untuk yang lainnya.
Kau
bangkit dari tempat dudukmu,lalu memelukku.Aku hanya bisa terdiam,mencium
keningmu lalu membelai rambutmu.Kau diam menatapku,dan semakin aku menatap
matamu Dear,aku semakin merasa bersalah,karena aku tahu kau lebih dari
lelah,kau sakit,dan aku yang menyakitimu.
Aku
akhirnya semakin kalut Dear,saat aku menemukanmu dalam kondisi pucat pasi dan
hanya bersandar pada tembok.Kau menatap langit-langit dengan tatapan yang semakin
lelah.Aku menghampirimu,dan menggenggam tanganmu,berusaha menanyakan apakah kau
baik-baik saja,dan kau hanya mengangguk sambil tersenyum.Aku memperhatikan
lenganmu,dan aku menyadari ada satu sayatan lagi yang tergores disana.Aku diam
menatapmu,dan kau berpaling menghindari tatapanku.Akhirnya aku mulai menangis
dear,aku menangis dihadapanmu,memelukmu dan mengatakan maaf padamu.Tetapi kau
hanya diam,tak mengatakan apapun saat itu.Aku mendekapmu semakin erat saat aku
mengucapkan maaf dan berungkali mengatakan bahwa aku menyayangimu tulus,tetapi
bukan hanya namamu yang tertulis disitu.
Kau diam
Dear,kau bahkan tak membalas pelukanku.Aku melepaskan dekapanku,lalu berusaha
kembali menatapmu,berharap akhirnya kau mau memaafkanku.Tetapi kau hanya
diam,tak berkata apapun,tak tersenyum,hanya menatap mataku dengan sayu.Kau
terlihat semakin lelah,dalam tatapan itu dan wajah pucat pasimu.Sedetik
kemudian kau tersenyum,mengecup pipiku lalu berbisik bahwa kau juga
menyayangiku tulus,lebih dari apapun sampai kapanpun.Aku merasa lega saat
itu,tetapi tiba-tiba kau berdiri beranjak meninggalkanku,dan menjauh.Aku
mengikutimu,tetapi kau tak memperdulikanku,kau memutuskan untuk berbaring di
kamarmu,dan aku memilih untuk duduk menemanimu.Sesaat kemudian aku baru
tersadar,bahwa kau sedang tidak baik-baik saja Dear,darah segar menetes dari
hidungmu,dan kau membiarkan hal itu,kau terbatuk sesaat dan ada darah di ujung
bibirmu.Aku mencoba membersihkan cairan merah itu dari wajahmu,tetapi kau hanya
diam,tatapanmu semakin sayu menatap langit-langit itu kosong,tanpa
memperdulikanku yang mulai kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini.Lalu
kau menggenggam tanganku,menghentikan kegiatan yang sedang aku lakukan saat
ini.Kau masih diam Dear,hanya mengisyaratkanku untuk ikut berbaring di
sampingmu.Dan aku menurutinya saat itu,aku berbaring disampingmu sesuai
keinginanmu,sambil terus menatapmu berharap kau menjelaskan semuanya saat
ini,saat kau bersamaku.Tetapi kau malah memilih untuk diam,menatap
langit-langit tanpa berkata apapun untukku.Aku kembali mengambil tissue dari
tanganku,membersihkan cairan merah yang terus menetes dari hidungmu.Kau kembali
menghentikan apa yang ku lakukan untukmu lalu kau berkata
pelan."Percuma" ,hanya itu yang kau katakan.Kau menatapku sesaat lalu
tersenyum,kau kembali sibuk menatap langit-langit dalam diam,sambil terus
menggenggam tanganku.Lagi-lagi kau mengatakan bahwa kau mencintaiku
tulus,sesakit apapun itu untukmu kau tetap ada disini untukku karena kau tulus
melakukannya untukku.
Kau lalu
kembali terdiam Dear,dan aku hanya bisa menelan ludah sembari menatap
langit-langit saat kau berkata tentang hal itu.Aku ingin menangis,tetapi aku
tak ingin membuatmu memaksakan diri untuk membuatku tersenyum saat kondisimu
seperti ini.Jadi aku memilih diam,membiarkan hatiku menjerit sendiri,menjerit
tentang betapa bodohnya aku menyia-nyiakan mu,menjerit tentang betapa bodohnya
aku melukai mu,betapa jahatnya aku yang telah menghianatimu.
Aku
tersentak saat kau menggenggam tanganku lebih erat,kau menoleh kepadaku,bibirmu
tersenyum,tetapi kau meneteskan airmata untukku disaat yang bersamaan,kau
mencium tanganku,dan berkata bahwa aku yang terakhir untukmu sampai kapanpun.
Aku merinding,tanpa sadar aku juga
menangis.Kau mengusap air mataku,lalu mencium keningku.Mengatakan bahwa kau
benar-benar tulus memaafkanku,dan aku yang terbaik dihidupmu,tak apa aku
menyakitimu,karena kau sadar itu salahmu tak pernah bisa bahagiakanmu.Tiba-tiba
nafasmu melemah,dan matamu yang lelah tertutup perlahan,senyummu sedikit
memudar.Sedetik kemudian aku menyadari,bahwa kau tak lagi bernafas.Sesuatu atau
seseorang mengambil mu dari sisiku.Aku menjerit,menangis,berteriak memanggil
namamu.Berharap kau akan kembali tersenyum padaku,mengatakan bahwa semuanya
baik-baik saja.Tetapi kau tidak mengatakan apapun Dear,kau hanya diam,wajahmu tetap pucat dan nafas mu
terhenti.Aku tersadar yang aku lakukan percuma lalu aku memelukmu,mencium
keningmu tulus,dan mengatakan bahwa kau juga yang terakhir untukku.Meskipun aku
tahu,kau terlambat untuk mendengarkan hal itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar