Ini potret
bangsaku yang lelah
Tertipu kebangsatan politisi yang ternaskah
Mengemis
sisa-sisa keadilan yang tercacah
Ini
keblingsatan bangsaku yang lelah
Berteriak,berlari,berlagak bagai sang pencerah
Merangkai kebusukan seindah filsafah
Memandang janji neraka yang terbingkai indah
Ini
tuntutan bangsaku yang lelah
Keinginan dalam mimpi yang gerah
Berkelana mencari peta tentang arah
Menunggu kiamatnya kata berubah
Mulukkah
mimpi nyawa-nyawa yang lelah
Nyawa yang menghitam di keranjang-keranjang sampah
Nyawa anak-anak Hawa yang terkulai dalam bercak darah
Nyawa tulang rusuk Adam yang hanya bisa terduduk di
tungku-tungku kosong tiap rumah.
Nyawa yang baru menyentuh Ibunya dan hanya bisa bermimpi
tentang sekolah.
Butakah
kau arwah wakil kami yang sibuk dengan toilet-toilet mewah.
Tawamu meriah dalam tangis kelaparan kami yang berdarah
Kau berdansa dengan keputus asa'an nadi kami yang
bernanah
Mengisi
lumbung padi kami dengan air ludah
Menggusur
rumah kecil kami dengan bangunan kantormu yang megah
Mengambil lapak-lapak lusuh kami demi rumah dinasmu yang
membuatmu lengah.
Wahai
penguasaku yang berbalut kain-kain jenazah
Pergilah berkaca di serpihan-serpihan mayat rakyatmu yang
terpecah.
Maka kau akan melihat sosok jenazah berjas dengan bau
busuk,belatung dan nanah.
Memaksa kami menguburmu bersama demokrasi yang sudah rata
dengan tanah.
Dibawah naungan kain suci kami yang berwarna merah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar