Rabu, 18 Januari 2012

Ini Indonesia


          Ini potret bangsaku yang lelah
Tertipu kebangsatan politisi yang ternaskah
Mengemis sisa-sisa keadilan yang tercacah
          Ini keblingsatan bangsaku yang lelah
Berteriak,berlari,berlagak bagai sang pencerah
Merangkai kebusukan seindah filsafah
Memandang janji neraka yang terbingkai indah
          Ini tuntutan bangsaku yang lelah
Keinginan dalam mimpi yang gerah
Berkelana mencari peta tentang arah
Menunggu kiamatnya kata berubah
          Mulukkah mimpi nyawa-nyawa yang lelah
Nyawa yang menghitam di keranjang-keranjang sampah
Nyawa anak-anak Hawa yang terkulai dalam bercak darah
Nyawa tulang rusuk Adam yang hanya bisa terduduk di tungku-tungku kosong tiap rumah.
Nyawa yang baru menyentuh Ibunya dan hanya bisa bermimpi tentang sekolah.
          Butakah kau arwah wakil kami yang sibuk dengan toilet-toilet mewah.
Tawamu meriah dalam tangis kelaparan kami yang berdarah
Kau berdansa dengan keputus asa'an nadi kami yang bernanah
Mengisi lumbung padi kami dengan air ludah
          Menggusur rumah kecil kami dengan bangunan kantormu yang megah
Mengambil lapak-lapak lusuh kami demi rumah dinasmu yang membuatmu lengah.
          Wahai penguasaku yang berbalut kain-kain jenazah
Pergilah berkaca di serpihan-serpihan mayat rakyatmu yang terpecah.
Maka kau akan melihat sosok jenazah berjas dengan bau busuk,belatung dan nanah.
Memaksa kami menguburmu bersama demokrasi yang sudah rata dengan tanah.
Dibawah naungan kain suci kami yang berwarna merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar